Apakah Kamu Merasakan Ini? Realita Yang Harus Dihadapi Setelah Wisuda!

DISNAKERJA.COM - Wisuda adalah momen yang sangat dinanti-nanti bagi sebagian mahasiswa. Bagaimana tidak? Setelah lelahnya menghadapi perjuangan skiripsi yang begitu panjang, serta proses revisi berkali-kali. Wisuda tentunya menjadi saat yang menggembirakan.
Namun, tapa disadari, wisuda bukanlah akhir perjalanan dari hidup kawan-kawan, justru itu adalah awal dari kehidupan dunia yang sebenarnya. Jika sebelumnya kita masih berpangku tangan dengan orang tua, maka setelah wisuda kita harus bisa berpegang pada diri sendiri.

1. Alih-alih bangga, ijazah di tangan justru membuatmu merasa tak bisa apa-apa.

Nampaknya hidup akan lebih ringan, karena selembar kertas itu akan menjadi jaminan masa depan. Dan mungkin kamu sangat yakin dengan nilai pendidikan kamu yang tinggi sehingga kamu berpikir akan bekerja sesuai jurusanmu.
Namun, realitanya kehidupan tak berubah begitu saja, selepas Dekan menggesar tali diatas toga. Justru gelar dibelakang nama-mu membuat banyak pertanyaan muncul dibenak.

Apa yang bisa membuatku berbeda? Kemampuan apa yang bisa kujual untuk perusahaan nanti?
Bener gak?
Baca juga
2. Ketatnya persaingan dunia kerja

Dunia kerja memang keras, bahkan teman sebangku dimasa kuliahpun kini akan menjadi sainganmu untuk menempati satu posisi yang sama disebuah perusahaan.

3. Pekerjaan itu seperti anak tangga. Kamu harus siap mulai dari bawah.

Bagi fresh graduate tentunya sangat tidak mungkin untuk langsung menapaki karir dilevel tertinggi. Program seperti Management Trainee (MT)/Fresh Graduate Development Program (FGDP) menjadi pilihan yang tepat untuk seorang fresh graduate.
Meski masuk program yang kata orang bergengsi, kerasnya justru baru akan diuji. Alih-alih merasa berhasil, kamu justru akan lebih tahu diri bahwa tidak mudah meniti karir hingga ke level tertinggi.

4. Teman akan datang dan pergi

Setiap orang selalu berbicara tentang hubungan persahabatan kampus yang tidak lama selamanya. Selama beberapa tahun ke depan kamu akan mengetahui orang-orang yang akan datang dan keluar dari kehidupan kamu. Mungkin terasa seperti ada roda yang berputar dalam pertemanan hidup kamu.
Ketahuilah, hal tersebut merupakan hal yang sangat wajar, karena kamu dan teman-teman-mu telah memasuki fase kehidupan yang sesungguhnya.

5. Gaji hanyalah sauatu ukuran keberhasilan

Di masa kuliahmu dulu mendapat transfer 3 juta per bulan ke rekening seakan jadi kemewahan yang membuatmu bebas berfoya-foya. Tapi ternyata tidak begitu dalam kehidupan nyata.
Ternyata ketika dewasa kamu mengerti bahwa uang atau gaji yang kamu terima hanyalah suatu ukuran keberhasilan selama bekerja setiap bulan. Menggunakan uang gajian tidaklah mudah, kamu harus menggunakannya dengan bijak dan terarah.

Perlahan, kamu pun mulai menyesuaikan pola hidup sesuai pendapatanmu. Selepas euforia girang mendapat gaji sendiri berlalu, gaya hidup (anehnya) berubah tak lagi seloyal dulu. Meski kini kebebasan membelanjakan uang ada di tanganmu — mewah dan mentereng bukan lagi jadi prioritasmu. Cukup. Sudah. Hidup kini sesederhana itu.

6. Ada rasa iba ingin bisa membantu kehidupan orang tua. Meski kamu sadar, tak mampu membalas jasa mereka.

Entah kenapa setelah mulai mendapat kerja, ada rasa yang mendesak didalam dada untuk mengembalikan sesuatu kepada orang tua. Tanpa diminta, kamu mulai pasang badan untuk membayar tagihan-tagihan rumah, membawa makanan selepas pulang kerja. Kamu ingin meringankan beban mereka semampu kekuatan bahumu. Meski toh sampai kapanpun hutang itu tak akan impas menurut perhitunganmu.

Related Posts